Batam – Direktur eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kepulauan Riau (Kepri),
Dipl. Daniel Wahyu Pratama Hutagalung BA MSc M BSM mengatakan, hingga saat ini branding dan konten adalah kelemahan terbesar pariwisata di Provinsi Kepri.
Hal tersebut disampaikannya saat menerima SK penunjukan dia sebagai Direktur Eksekutif BPPD Kepri untuk periode tahun 2021-2024, Senin (26/7/2021) di Sekretariat BPPD Kepri, Crisis Center, Sukajadi Kota Batam.
SK Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kepri itu diserahkan oleh Sekretaris BPPD Kepri, Sumiaty Marzuki dan didampingi oleh Komisaris BPPD Kepri, Marokhimin.
“Pariwisata adalah salah satu industri terbaik yang dimiliki oleh Provinsi Kepri ini, maka 100 hari kedepan harapannya kita harus bermain di branding dan konten, karena ini kelemahan terbesar pariwisata kita,” ucap Daniel.
Dikatakan Daniel, orang luar negeri lebih banyak tau tentang Bali dari pada Indonesia sendiri, hal itu dikarenakan Bali itu mempromosikan pariwisatanya dengan banyak membuat konten dengan sangat baik dan tersekmentasi kepada market yang memang sudah ditargetkan.
“Jadi kelemahan-kelemahan itu akan kita perbaiki bersama-sama dan mengatur strategi, karena itu adalah ujung tombak untuk mempromosikan kepada market yang belum pernah tergapai,” ujar pria yang cukup berpengalaman di dunia kepariwisataan, khususnya promosi pariwisata.
Lanjutnya, pihaknya akan fokus mempromosikan pariwisata yang ada di tujuh Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepri, sebab dia memang sudah sejak lama menginginkan keaktifan, keterlibatan dalam pariwisata di Indonesia.
“Saya sendiri sudah cukup lama diluar negeri yakni 11 tahun di Eropa, 9 tahun di Jerman dan 2 tahun di Spanyol semua itu saya geluti dibidang pariwisata, tentu tidak asing lagi jika pulang ke rumah sendiri tepatnya di Belakang Padang,” tuturnya.
Tentu lanjutnya, dengan harapan kedepan agar pariwisata di tanah melayu ini lebih baik lagi terutama pada masa pandemi Covid-19.
Tujuh Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Kepri ini akan diselaraskan sesuai dengan diskusi yang dilakukannya dengan tim komisioner BPPD Kepri.
Kepri ini standardisasi sendiri cukup timpang, jika disandingkan hotel di Kepri ini seperti Batam, Karimun Lingga yang mana mereka cukup baik menentukan standarisasi yang cocok dengan pariwisata.
“Orang dari Singapura dan Malaysia agar punya rasa insekiur tidak aman ataupun tidak nyaman ketika mereka mungkin mendapatkan fasilitas ataupun infrastruktur yang rasa membuat nyaman mereka datangi,” sebutnya.
Menurutnya, banyak yang membuat pengunjung atau wisatawan itu agar bisa lebih nyaman untuk datangi destinasi wisata di Kepri. Entah itu fasilitas keamanan, kesehatan kalau misalnya terjadi sesuatu dekat ke rumah sakit.
“Tetapi jika mereka berada di ujung pulau, yang istilahnya air bersih pun kita tau sendiri apakah ada atau tidak susah didapatkan, nah selanjutnya akan di koordinasikan ke pihak terkait,” paparnya.
Dia berharap, kedepan yang paling penting dipromosikan itu adalah kultur, budaya dan fasilitas. Seperti di Batam ini adanya Golf kursus yang bertaraf international tapi tidak banyak yang mamanfaatkannya dan tidak terekspos.


