Batam – Pada September 2022, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) secara bulanan mengalami inflasi sebesar 1,06 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan Agustus 2022 yang mengalami deflasi sebesar0,5 persen.

Inflasi didorong oleh peningkatan harga kelompok komoditas yang harganya diatur oleh pemerintah (administered prices) utamanya bensin serta meningkatnya tekanan inflasi kelompok inti yang didorong oleh kenaikan biaya masuk akademi atau perguruan tinggi sejalan pergantian tahun ajaran
baru.

Sementara itu, tekanan inflasi kelompok komoditas pangan bergejolak (volatile food) cenderung berkurang. Pada saat yang sama, IHK Nasional tercatat mengalami inflasi sebesar 1,17 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,21 persen.

Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kepri pada September 2022 mengalami inflasi sebesar 6,79 persen, meningkat dibandingkan Agustus 2022 sebesar 6,00 persen ataumasih di atas sasaran inflasi nasional sebesar 3 ± 1 persen.

Deputi kepala perwakilan TPID Provinsi Kepri, Adidoyo Prakoso mengatakan, inflasi bersumber dari kelompok transportasi, kelompok pendidikan serta kelompok makanan, minuman dan tembakau.

Inflasi kelompok transportasi didorong oleh kebijakan penyesuaian harga bensin yang berdampak terhadap kenaikan tarif angkutan baik laut dan darat.

“Inflasi pada kelompok pendidikan utamanya didorong kenaikan dari biaya pendidikan kelompok akademi/perguruan tinggi yang dilakukan sekali setahun,” kata Adidoyo, Selasa (4/10/2022).

Lebih lanjut inflasi kelompok makanan didorong oleh kenaikan harga sayur-sayuran segar seperti kangkung, bayam dan sawi hijau.

Secara spasial, Kota Batam dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi masing-masing sebesar 1,08 persen dan 0,92 persen.

Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kota Batam mengalami inflasi sebesar 6,87 persen dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 6,12 persen.

“Memasuki bulan Oktober 2022, tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut namun lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya.

Beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, yakni dampak lanjutan dari penyesuaian harga BBM dan kondisi cuaca yang berdampak pada pasokan komoditas sayur-sayuran serta ikan segar.

Berkenaan dengan hal terse but lanjutnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat sinergi dalam upaya pengendalian inflasi.

Gerakan Nasional Pengen dalian Inflasi Pangan (Gernas PIP) Provinsi Kepri yang dilaunching pada 22 Agustus lalu akan terus diintensifkan dengan berfokus pada 3 program.

Pertama, meningkatkan produksi pangan melalui program pemanfaatan lahan pekarangan dan perluasan lahan untuk budidaya tanaman pangan.

Kedua, memperkuat kerjasama antar daerah untuk memastikan kelancaran distribusi pangan.Ketiga, melaksanakan upaya stabilisasi harga pangan melalui operasi pasar yang telah dan akan terus dilakukan di sejumlah pasar di wilayah Kepri.

“Selanjutnya, dalam jangka panjang, TPID akan terus mendorong upaya peningkatan kapasitas produksi lokal melalui penguatan kelembagaan nelayan atau petani, perluasan lahan, dan implementasi teknik budidaya yang lebih baik seperti program lipat ganda dan digital farming,” tutupnnya. (red)

 

Share.
Leave A Reply