Batam – Sekretaris fraksi PKS DPRD Kota Batam, Rohaizat mengecam pembongkaran pasar induk Jodoh yang dilakukan oleh tim terpadu Kota Batam dari unsur Satpol PP, TNI, Polri dan Ditpam BP Batam pada Senin (26/7/2021) kemaren.
Pasalnya, pada saat pembongkaran dan penggusuran yang dilakukan menggunakan alat berat itu menimbulkan korban jiwa, dimana salah seorang pedagang yang tinggal dibangunan tua tersebut syok dan langsung meninggal dunia.
“Sangat menyayangkan aksi penggusuran yang di lakukan oleh tim gabungan itu, apalagi sampai ada pedagang yang meninggal dunia karena syok atas aksi penggusuran tersebut,” ucap Rohaizat saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (27/7/2021).
Terlebih lagi kata Rohaizat, saat ini Batam berstatus Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, yang artinya dilarang untuk melakukan kerumunan.
“Tapi kok Pemko Batam malah sempat-sempat pula melaksanakan penggusuran itu yang mengumpulkan orang banyak dan bahkan menimbulkan keributan, sebab yang namanya pengusuran pasti ada penolakan dari masyarakat,” ujar anggota Komisi III DPRD Kota Batam itu.
Disampaikannya, saat ini situasi mayoritas masyarakat sedang sulit ekonominya karena dampak pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PPKM, dengan adanya aksi penggusuran itu maka akan membuat masyarakat makin susah.
Pemerintah itu harus bijak dan bekerja lah pakai hati. Dia juga meminta kepada Pemko Batam beserta tim gabungan menghenti dulu penggusuran itu sampai ada kesepatakan antara pedagang yang tinggal disitu dengan Pemko Batam.
“Pemerintah juga harus bertanggung jawab atas insiden meninggal dunianya seorang pedagang tersebut. Itu nanti tergantung dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwajib. Warga yang ada dilokasi kita minta untuk tidak terprovokasi,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, diduga syok karena digusur oleh tim terpadu Pemerintah Kota (Pemko) Batam, seorang pedagang yang tinggal di eks pasar induk Jodoh Kota Batam meninggal dunia, pada Senin (26/7/2021) siang.
Seorang ibu-ibu bernama Friska Ginting (42) itu meninggal dunia karena jantung melihat pengusuran dengan menggunakan alat berat oleh petugas gabungan.
Bony Ginting, salah satu warga pasar Induk Jodoh mengatakan, korban tersebut meninggal dunia karena terkejut melihat alat berat dan tim terpadu yang melakukan kegiatan penggusuran itu.
“Jadi tadi korban kaget karena melihat alat berat dan tim terpadu datang. Padahal belum ada pemberitahuan tentang kegiatan penggusuran saat ini,” ungkapnya kepada awak media. (red)











